文章
  • 文章
永利集团

Tontowi Ahmad / Liliyana Natsir:Mengemban beban medali harapan

2016年8月17日下午12:56发布
2016年8月17日下午1:08更新

Tontowi Ahmad / Liliyana Natsir。 Foto dari badmintonindonesia.org

Tontowi Ahmad / Liliyana Natsir。 Foto dari badmintonindonesia.org

雅加达,印度尼西亚 - 迪阿塔斯科塔斯,pasangan ganda campuran印度尼西亚Tontowi Ahmad / Liliyana Natsir memang lebih优秀dibanding lawannya di决赛,彭顺灿/刘莹Goh。 Namun,laga最终selalu berbeda。

Rekor Owi / Butet,panggilan akrab keduanya,terhadap pasangan马来西亚itu hampir sempurna。 Mereka menang 8 kali dan hanya kalah sekali。 Yakni di China开放pada 2012 silam dengan skor 19-21,14-21。

Bentrok terakhir antara kedua pasangan tersebut terjadi di fase grup。 Namun,kembali pasangan Owi / Butet tetap superior。 Mereka mengalahkan wakil negeri jiran itu dengan mudah,21-15,21-11。

Karena itulah,optimisme melambung seiring lolosnya juara dunia 2013 itu ke babak final。 Sebab,lawan yang dihadapi sudah mereka kenal gaya permainannya。

Tapi,meskipun begitu,mereka tetap harus waspada。 最后berbeda dengan babak penyisihan grup。 Di partai puncak,tekanan lebih besar。 Harapan untuk menang juga jauh berlipat ganda。 Sebab,mereka sudah merasa tinggal satu langkah lagi menjadi yang terbaik。

Apalagi,arenanya saat ini bukan lagi kejuaraan羽毛球,tapi panggung dunia di Olimpiade。

Bagi Indonesia,medali emas bakal sangat berarti。 Medali tersebut bakal mengembalikan tradisi emas Indonesia dari bulu tangkis。 Kali terakhir Merah Putih meraihnya pada Olimpiade Beijing 2008 atau hampir delapan tahun silam。

Owi / Butet selangkah lagi bakal mengembalikan tradisi medali emas dari bulutangkis sejak 1992.Tradisi itu sempat terhenti di London 2012。

Karena itulah,Butet tak mau dirinya terlena dengan optimisme yang berlebihan。 Dia tetap ingin menjaga kepercayaan dirinya dalam batas yang wajar。 Tujuannya,dia bisa tenang menjalani laga di Riocentro-Pavilion 4,Barra da Tijuca,Rio de Janeiro,malam ini tersebut。

“Partai final dan甚至besar seperti ini tidak bisa hanya bergantung head to head ,ada faktor mental yang menentukan,yang kami butuhkan bagaimana kami bisa bermain tenang,”kata Butet dalam pesan singkat ke Rappler,Rabu,17 Agustus。

Butet mengatakan,rekor pertemuan dua rival tersebut bukan jaminan。 Justru,ganda Malaysia bakal mengantisipasi。 Mereka akan mengerahkan segala energinya untuk menjinakkan Indonesia。

“Mereka tentu sudah mempelajari kami,demikian juga kami sudah tahu karakter mereka.Mereka agresif,itu yang harus kami waspadai,”imbuhnya。

Melihat gaya permainan Owi yang eksplosif dan Butet yang tenang,maka kendali permainan ada di tangan Butet。 Owi harus bisa meredam permainannya,untuk tidak terburu-buru dan mubazir membuang tenaga。

Playmaker untuk mengatur ritme,mengatur pengembalian bola,ada di tangan Butet,sehingga nantinya,bola yang dikembalikan lawan bisa nyaman untuk dieksekusi Owi。

Sementara itu,Can / Goh cenderung bermain bola cepat。 Bola-bola reli dalam pertandingan ini paling dihindari oleh pasangan peringkat ke-11 dunia itu。 Karena itu,di satu sisi,pasangan nomor tiga dunia itu harus bermain nyaman,namun di satu lain memberikan bola-bola tak nyaman bagi pasangan Malaysia tersebut。

Rasa takabur dan 超过信心 harus ditepikan oleh Owi / Butet。 Selama ini,Butet yang berpengalaman sudah bisa mengatur mentalnya。 Hanya Owi yang masih kerap terlalu bersemangat,sehingga sering membuat kesalahan sendiri。

Ini pula yang dikomentari oleh Richard Mainaky,pelatih Owi / Butet。 Sejauh ini,dia melihat mental para pemainnya itu masih stabil。 Yang diharapkan,konsentrasi tinggi dan beban satu-satunya harapan emas,bisa dibuang jauh-jauh。

Meski perasaan itu tetap ada,Owi / Butet harus bisa mengendalikannya dengan bermain lebih tenang,tak terburu-buru matikan lawan。

“Bukan hati-hati,tapi harus presisi.Perlu reli,ya reli,perlu langsung matikan dan peluang itu terbuka,langsung dikasih,”tuturnya。

Kemenpora gelar nobar

Partai puncak dan harapan medali ada di tangan Owi / Butet。 Krusial dan ekspektasi yang besar membuat Menpora Imam Nahrawi langsung menyiapkan gelaran nonton bareng di halaman Kemenpora pada Rabu malam。

Ditemui di kantornya jelang perayaan upacara Kemerdekaan,伊玛目memastikan dukungan tak hanya diberikan oleh masyarakat dan atlet Indonesia yang masih ada di Rio de Janeiro。 Di Indonesia,doa masyarakat terus dialirkan dan dukungan diberikan dengan cara nonton bareng。

“Acara nanti malam,saya akan nonton bareng bersama masyarakat dan teman-teman media di sini.Mudah-mudahan emas diraih,merah putih berkibar dan Indonesia Raya berkumandang,”ungkapnya。

Saat disinggung adakah keinginan atau nazar yang diutarakan apabila Indonesia juara,seperti cukur kumis atau cukur rambut dan lainnya,Imam menolak。 Dia meminta menunggu hasil akhir,barulah nanti masyarakat akan tahu apa yang akan dilakukannya。

“Nanti saja,yang terpenting hasil akhir dulu dan Indonesia bisa meraih emas,”pungkasnya。 -Rappler.com